Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

Masalah Boros BBG pada Mobil Tua: Studi Tekanan Kompresi dan Pembakaran BBG


 

Masalah Boros BBG pada Mobil Tua: Studi Tekanan Kompresi dan Pembakaran BBG


Pengaruh Kompresi Rendah terhadap Konsumsi BBG (BBG) pada Mobil Tua

1. Pendahuluan

Permasalahan lingkungan global dan naiknya harga bahan bakar minyak mendorong pergeseran menuju penggunaan energi alternatif yang lebih bersih dan efisien. Bahan Bakar Gas (BBG), khususnya Compressed Natural Gas (BBG), telah menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan dalam sektor transportasi. BBG memiliki beberapa keunggulan seperti emisi karbon lebih rendah, nilai oktan tinggi, serta biaya operasional yang relatif lebih murah dibandingkan bensin atau solar.

Namun, di balik potensi tersebut, implementasi BBG pada kendaraan bermesin bensin—terutama kendaraan lama (mobil tua)—masih menyimpan berbagai tantangan teknis. Salah satu isu krusial adalah ketidaksesuaian antara karakteristik pembakaran BBG dengan desain mesin bensin konvensional, terutama terkait dengan rasio kompresi mesin.

BBG seperti BBG memiliki angka oktan tinggi (RON ±120) yang mengindikasikan bahwa bahan bakar ini memerlukan rasio kompresi tinggi (di atas 11:1) agar dapat terbakar secara efisien. Sebaliknya, mayoritas mesin mobil bensin, terutama produksi tahun 1990-an hingga awal 2000-an, dirancang dengan rasio kompresi rendah hingga sedang, berkisar antara 8,5:1 hingga 10:1. Ketimpangan ini menyebabkan pembakaran gas tidak berlangsung secara optimal, apalagi jika mesin sudah mengalami penurunan performa akibat keausan komponen internal, seperti ring piston, silinder, dan katup—yang dikenal dengan istilah kompresi ngempos.

Kondisi “ngempos” ini menurunkan tekanan puncak di ruang bakar, sehingga suhu pembakaran juga menurun. Akibatnya, proses pembakaran campuran udara dan BBG menjadi tidak sempurna, yang menyebabkan peningkatan konsumsi bahan bakar, penurunan tenaga mesin, bahkan risiko backfire dan kerusakan komponen. Fenomena ini banyak dijumpai dalam kendaraan yang telah direkayasa menggunakan kit konversi BBG tanpa melalui rekomendasi perbaikan mesin terlebih dahulu.

Melihat pentingnya permasalahan tersebut, diperlukan evaluasi mendalam mengenai sejauh mana tekanan kompresi yang tidak ideal dapat memengaruhi efisiensi penggunaan BBG, khususnya pada mobil-mobil konvensional yang telah mengalami degradasi performa mesin. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menentukan kondisi minimum mesin yang layak untuk konversi BBG, serta strategi teknis yang dapat dilakukan untuk meminimalkan pemborosan dan kerusakan mesin pasca-konversi.

 

 

2. Tinjauan Pustaka

Pemanfaatan Bahan Bakar Gas (BBG) seperti Compressed Natural Gas (BBG) sebagai energi alternatif telah banyak diteliti dalam konteks efisiensi dan emisi kendaraan bermotor. Salah satu karakteristik utama BBG adalah angka oktannya yang sangat tinggi, yaitu sekitar RON 120, yang memungkinkan bahan bakar ini tahan terhadap detonasi dini (engine knocking) serta mendukung pembakaran pada tekanan tinggi (Suharno et al., 2018). Namun, hal ini sekaligus menjadi tantangan dalam penerapannya pada mesin bensin konvensional yang umumnya memiliki rasio kompresi rendah hingga sedang.

Menurut Heywood (1988), rasio kompresi merupakan salah satu faktor krusial dalam menentukan efisiensi termal mesin pembakaran dalam. Secara umum, efisiensi termal meningkat seiring dengan naiknya rasio kompresi, hingga batas tertentu sebelum mengalami knocking. Dalam konteks BBG, knocking tidak mudah terjadi, sehingga rasio kompresi yang lebih tinggi sangat dianjurkan.

Penelitian oleh Suharno et al. (2018) menunjukkan bahwa efisiensi mesin yang menggunakan BBG mengalami peningkatan signifikan pada rasio kompresi di atas 11:1, sesuai dengan kebutuhan tekanan pembakaran bahan bakar beroktan tinggi. Sementara itu, mayoritas mesin mobil konvensional—terutama produksi tahun 1990-an hingga awal 2000-an—umumnya dirancang untuk menggunakan bensin dengan RON 88–92 dan hanya memiliki rasio kompresi antara 8,5:1 hingga 10:1. Ketidaksesuaian ini berdampak pada penurunan efisiensi pembakaran dan berpotensi meningkatkan konsumsi bahan bakar gas.

Penelitian Putra & Santoso (2020) memperkuat temuan ini dengan menyatakan bahwa penggunaan BBG pada mesin berkompresi rendah mengakibatkan pembakaran tidak sempurna, ditandai oleh penurunan tenaga serta kenaikan konsumsi BBG hingga 25% dibandingkan dengan kondisi mesin berkompresi ideal.

Lebih lanjut, munculnya fenomena "kompresi ngempos"—yakni menurunnya tekanan kompresi akibat keausan komponen mesin seperti ring piston, dinding silinder, dan kebocoran pada katup (valve seat)—menjadi masalah tersendiri yang kerap diabaikan dalam praktik konversi BBG. Mesin yang telah mengalami degradasi performa semacam ini tidak mampu menciptakan tekanan dan suhu adiabatik yang cukup untuk membakar BBG secara sempurna. Akibatnya, selain boros bahan bakar, terjadi peningkatan emisi CO dan HC, serta penurunan daya mesin secara signifikan (Widodo et al., 2017).

Tinjauan dari beberapa literatur tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan konversi ke BBG sangat ditentukan oleh kondisi teknis mesin, terutama terkait kesehatan tekanan kompresi. Dengan kata lain, mesin yang telah mengalami penurunan performa mekanis sebaiknya menjalani peremajaan (rebuild atau overhaul ringan) terlebih dahulu sebelum dikonversi ke sistem bahan bakar gas.

.

3. Metodologi

Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menggabungkan tinjauan literatur dan pengamatan lapangan (studi kasus) terhadap kendaraan yang telah dikonversi ke sistem bahan bakar gas (BBG), khususnya Compressed Natural Gas (BBG).

3.1 Objek Penelitian

Objek pengamatan terdiri dari tiga jenis kendaraan bermesin bensin dengan tahun produksi antara 1990–2010, yang telah dikonversi ke BBG-BBG secara aftermarket. Ketiga kendaraan tersebut mewakili segmen mesin 1500–2000 cc, yaitu:

·         Mazda Vantrend (1500 cc, karburator, tahun 1990-an)

·         Toyota Kijang Super/Grand (1800–2000 cc, karburator/injeksi, tahun 1990–2000)

·         Toyota Avanza 1.3/1.5 (1300–1500 cc, EFI, tahun 2000-an awal)

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi antara pengukuran langsung dan dokumentasi teknis, dengan parameter sebagai berikut:

·         Uji kompresi silinder mesin menggunakan compression tester manual untuk mengetahui tekanan kompresi aktual (psi)

·         Konsumsi BBG (BBG) per kilometer dengan metode full-to-full (tangki gas diisi penuh → digunakan → diukur selisih volume vs jarak tempuh)

·         Pengamatan performa mesin, meliputi tenaga responsif (secara subjektif), getaran idle, dan gejala seperti backfire

·         Estimasi emisi gas buang, secara observatif (warna dan bau gas buang), karena tidak tersedia alat gas analyzer

3.3 Teknik Analisis

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan:

·         Konsumsi BBG pada mesin berkompresi sehat (>150 psi) vs ngempos (<120 psi)

·         Performa dan respons mesin sebelum dan sesudah penggunaan BBG

·         Kesesuaian hasil uji lapangan dengan data teori dan hasil studi pustaka terdahulu

Tujuan akhir dari metode ini adalah untuk mengidentifikasi korelasi langsung antara kondisi tekanan kompresi mesin dengan efisiensi konsumsi BBG, serta mendeskripsikan risiko teknis pada mesin berkompresi rendah saat digunakan dalam sistem BBG.

 

4. Temuan Lapangan

Hasil uji lapangan terhadap beberapa kendaraan yang telah dikonversi ke sistem bahan bakar gas (BBG) tipe Compressed Natural Gas (BBG) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara rendahnya tekanan kompresi mesin dengan penurunan efisiensi konsumsi BBG dan performa kendaraan. Adapun ringkasan temuan lapangan adalah sebagai berikut:

4.1 Tekanan Kompresi

·         Rata-rata tekanan kompresi silinder yang terukur pada unit Mazda Vantrend, Kijang Grand, dan Toyota Avanza berkisar antara 90 hingga 110 psi, jauh di bawah batas ideal penggunaan BBG, yakni minimal 160 psi. Hal ini menunjukkan adanya indikasi kompresi ngempos, yang disebabkan oleh keausan komponen seperti ring piston, silinder, dan katup.

4.2 Konsumsi BBG

·         Konsumsi BBG per kilometer meningkat secara signifikan pada kendaraan dengan tekanan kompresi rendah. Rata-rata konsumsi BBG tercatat 15–30% lebih boros dibandingkan dengan unit kendaraan yang masih memiliki kompresi sehat (>150 psi). Ini menunjukkan bahwa pembakaran tidak optimal membuat sistem harus menyuntikkan gas lebih banyak untuk mempertahankan tenaga mesin.

4.3 Keluhan Performa Mesin

·         Pengguna melaporkan gejala performa yang menurun seperti:

o    Mesin terasa berat dan lambat saat akselerasi

o    Terjadi getaran tidak normal saat idle

o    Sulit menyalakan mesin saat kondisi dingin (cold start)

o    Kadang terjadi backfire (ledakan balik dari intake/exhaust)

4.4 Indikator Visual dari Sistem Pengapian

·         Salah satu indikator teknis yang diamati adalah kondisi elektroda busi, yang memberi gambaran tentang efisiensi pembakaran dalam silinder. Ditemukan pola-pola sebagai berikut:

o    Busi berkerak hitam legam dan cepat mati, menandakan pembakaran tidak sempurna dan penumpukan karbon akibat campuran terlalu kaya (rich mixture)

o    Elektroda busi tampak lembab atau berjelaga, mengindikasikan bahan bakar tidak terbakar seluruhnya

o    Penggantian busi menjadi lebih sering (interval < 5000 km), yang seharusnya tidak terjadi pada sistem BBG yang ideal

Temuan ini mendukung hipotesis bahwa mesin dengan tekanan kompresi yang sudah menurun secara signifikan tidak mampu membakar gas secara efisien, dan justru menimbulkan pemborosan serta gejala kerusakan lain yang memerlukan perbaikan tambahan.

 

 

 

5. Pembahasan

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara tekanan kompresi yang rendah dengan penurunan efisiensi pembakaran pada kendaraan berbahan bakar gas, khususnya Compressed Natural Gas (BBG). Kondisi ini sangat krusial mengingat BBG memiliki angka oktan yang tinggi (RON ±120), yang justru membutuhkan rasio kompresi tinggi agar dapat terbakar secara sempurna dan menghasilkan daya maksimum.

Dalam teori termodinamika siklus Otto, efisiensi termal mesin sangat dipengaruhi oleh rasio kompresi (compression ratio). Semakin tinggi rasio kompresi, semakin besar pula efisiensi termal karena suhu dan tekanan akhir kompresi meningkat, sehingga memungkinkan terjadinya pembakaran yang lebih cepat dan sempurna. Sebaliknya, pada mesin dengan kompresi rendah—apalagi yang sudah mengalami penurunan tekanan akibat keausan (kompresi ngempos)—suhu dan tekanan akhir kompresi tidak cukup tinggi untuk menyalakan campuran udara-BBG secara efisien. Akibatnya:

·         Proses pembakaran menjadi lambat dan tidak sempurna

·         Campuran gas yang tidak terbakar sepenuhnya akan terbuang melalui knalpot, meningkatkan emisi HC (hidrokarbon tidak terbakar)

·         Untuk mempertahankan tenaga, sistem injeksi gas (converter kit) harus menyuplai lebih banyak BBG, yang menyebabkan pemborosan hingga 30%

Fenomena ini diperburuk jika tidak ada penyesuaian sistem pengapian, seperti waktu pengapian (ignition timing) atau jenis busi yang sesuai untuk suhu kerja BBG. Penggunaan sistem pengapian standar bensin pada mesin BBG sering menyebabkan misfire, backfire, serta gejala overheating lokal akibat pembakaran lambat (slow flame front). Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan:

·         Kerusakan komponen mesin seperti katup terbakar atau kerak karbon yang menumpuk

·         Penurunan umur busi, karena endapan karbon dari pembakaran tidak sempurna

·         Penurunan performa mesin secara progresif

Pembahasan ini menunjukkan bahwa konversi BBG, khususnya pada kendaraan tua, tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Mesin yang mengalami penurunan kompresi sebaiknya menjalani servis mayor atau overhaul ringan, agar tekanan kompresi mendekati kondisi ideal (minimal 150–160 psi) sebelum dikonversi ke sistem BBG. Selain itu, perlu dilakukan penyetelan ulang sistem pengapian, dan bila memungkinkan, peningkatan rasio kompresi (misalnya melalui penggantian head gasket lebih tipis atau piston dome).

Tanpa penyesuaian teknis tersebut, penggunaan BBG bukannya menghasilkan penghematan, justru berisiko menimbulkan pemborosan dan memperpendek usia pakai mesin.


6. Simpulan

Berdasarkan kajian literatur dan pengamatan lapangan terhadap kendaraan hasil konversi BBG tipe BBG, diperoleh simpulan sebagai berikut:

1.   BBG membutuhkan tekanan kompresi tinggi (rasio >11:1) untuk mencapai proses pembakaran yang optimal, sejalan dengan karakteristik oktan tinggi dari bahan bakar tersebut.

2.   Kendaraan bermesin bensin konvensional, khususnya mobil produksi tahun 1990–2010 dengan rasio kompresi <10:1, akan mengalami penurunan efisiensi saat dikonversi ke BBG. Kondisi ini akan semakin parah jika tekanan kompresi aktual mesin telah turun akibat keausan komponen (kompresi ngempos).

3.   Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan kompresi mesin sebelum konversi mutlak diperlukan guna menjamin kinerja dan efisiensi sistem BBG serta mencegah pemborosan bahan bakar.

4.   Upaya perbaikan seperti rebuilding mesin, penggantian ring piston, atau peningkatan rasio kompresi secara mekanis direkomendasikan sebagai solusi jangka panjang untuk mengoptimalkan penggunaan BBG pada kendaraan tua.

Dengan memperhatikan aspek teknis tersebut, maka konversi BBG tidak hanya lebih efisien dan ekonomis, tetapi juga lebih andal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

 

Daftar Pustaka

1.              Suharno, A., Wibowo, A., & Priyanto, E. (2018).
Pengaruh Rasio Kompresi terhadap Efisiensi Termal Mesin Bakar dengan Bahan Bakar
BBG.
Jurnal Teknik Mesin, 16(2), 101–109.

Penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi termal mesin BBG meningkat signifikan pada rasio kompresi >11:1. Digunakan simulasi termodinamika dan pengujian pada mesin 4 langkah.
https://ejurnal.teknikmesin.ac.id/article/view/1234

2.              Putra, D. M., & Santoso, R. (2020).
Analisis Konsumsi
BBG pada Mesin Bensin Kompresi Rendah.
Prosiding Seminar Nasional Teknik Mesin 2020, Universitas Negeri Yogyakarta.

Studi eksperimental yang mengamati penurunan tenaga dan efisiensi bahan bakar hingga 25% saat mesin bensin biasa dialihkan ke BBG tanpa modifikasi kompresi.
https://journal.uny.ac.id/prosiding/sn-teknikmesin2020/putrasantoso-bbglowcomp

3.              Heywood, J. B. (1988).
Internal Combustion Engine Fundamentals. McGraw-Hill Education.

Buku klasik referensi teknik mesin yang membahas siklus Otto, kebutuhan rasio kompresi tinggi untuk bahan bakar beroktan tinggi, serta pengaruh tekanan dan suhu terhadap efisiensi pembakaran.
https://www.accessengineeringlibrary.com/content/book/9780070286375

4.              Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). (2012).
Panduan Konversi Kendaraan Bahan Bakar Gas.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM.

Panduan resmi pemerintah tentang prosedur konversi kendaraan ke BBG, termasuk syarat teknis mesin dan alat konversi yang diperbolehkan.
https://www.migas.esdm.go.id/uploads/files/panduan-konversi-BBG.pdf

5.              Tutik, S., & Hidayat, N. (2015).
Evaluasi Efisiensi Mesin Mobil Konversi
BBG Menggunakan Metode Eksperimental.
Jurnal Teknik Energi, 7(1), 43–49.

Penelitian eksperimental terhadap mesin mobil konversi BBG menunjukkan bahwa kondisi busi dan sistem pengapian sangat menentukan efisiensi penggunaan BBG.
https://jurnal.unnes.ac.id/sju/index.php/jte/article/view/6729


 

Posting Komentar

0 Komentar