Kopi
Tengah Malam
Jam sudah menunjukkan setengah dua
belas malam.
Aku mengirim pesan singkat padanya—entah kenapa jari ini bergerak begitu saja.
"Ada kopi?"
Tak kusangka, hanya beberapa detik berselang, balasannya datang: "Ada."
Jawaban sederhana itu seperti
undangan yang tak tertulis.
Dan tanpa pikir panjang, aku melangkah menuju rumahnya, menembus dingin malam
yang lembab dan sunyi.
Di teras kecil itu, lampu kuning remang menyambutku.
Dia sudah menunggu, dengan cangkir di tangan dan senyum yang entah kenapa
terasa terlalu hangat untuk jam segini.
Aku duduk di lantai, bersandar pada
tembok.
Dia menyodorkan secangkir kopi—bukan kopi kesukaanku, tapi rasanya hangat luar
biasa.
Mungkin karena dibuat olehnya.
Oleh perempuan yang tak seharusnya begitu dekat denganku,
tapi juga tak bisa kutolak keberadaannya.
Kami bercerita tentang banyak
hal—tentang hidup, tentang rasa sepi, tentang hal-hal kecil yang biasanya
terlupakan.
Suaranya lembut, wangi tubuhnya samar terbawa angin malam.
Aku bisa mencium aroma rambutnya, aroma sabun yang baru dipakainya sebelum aku
datang.
Semuanya terasa begitu hidup, begitu nyata.
Dan jujur saja—aku takut kehilangan momen itu.
Tiba-tiba, dia terdiam.
Aku menoleh, dan kulihat kepalanya bersandar di bahuku.
Tertidur, begitu tenang.
Dalam diam itu, aku hanya bisa menatap wajahnya yang damai—wajah seorang wanita
yang aku cintai, tapi bukan milikku.
Entah berapa lama aku hanya duduk
seperti itu.
Waktu berjalan tanpa suara, sampai akhirnya dia membuka mata, separuh sadar,
dan berbisik pelan,
"Kapan mau pulang? Ini sudah setengah dua pagi..."
Aku tersenyum kecil, menatap matanya
yang masih sayu.
Lalu kujawab lirih,
"Bagaimana aku bisa pulang… kalau kamu masih di depan mataku? Berat
rasanya, tahu?"
Dia hanya diam, tersenyum samar.
Lalu kembali menutup mata, seolah ingin menyimpan malam itu baik-baik.
Sementara aku tahu, setelah ini—mungkin hanya kenangan yang bisa kupeluk.
Epilog
Sudah berminggu-minggu sejak malam
itu.
Kopi di rumah kini selalu kuseduh sendiri.
Aku mencoba meniru rasanya—menambahkan gula sedikit lebih banyak dari biasanya,
berharap bisa menemukan kembali rasa yang sama.
Tapi ternyata tidak pernah sama.
Kopi itu selalu lebih hambar, lebih sepi.
Kadang, saat dini hari datang dan
dunia mulai sunyi, aku masih membuka ponsel.
Jari ini seperti punya kebiasaan lama, ingin menulis pesan pendek: “Ada
kopi?”
Tapi kali ini kutahan.
Aku tahu, beberapa kenangan memang tidak untuk diulang.
Cukup disimpan, secukup rasa kopi yang meninggalkan pahit di dasar cangkir.
Malam itu bukan tentang kopi.
Bukan tentang waktu yang salah.
Malam itu tentang dua manusia yang sama-sama lelah mencari tempat pulang,
dan menemukan kehangatan sesaat di antara larangan dan rasa yang tak bisa
dinamai.
Dan sejak malam itu, setiap kali aku
mencium aroma kopi,
selalu ada satu suara yang kembali berbisik pelan dari sudut ingatan:
"Kapan mau pulang...?"
0 Komentar