“Dulu Berjuang dengan Nyawa, Sekarang Berjuang di Kolom Komentar”
Pendahuluan
Ketika Republik Indonesia diproklamasikan pada 17
Agustus 1945, politik bukan sekadar urusan jabatan, tapi perjuangan hidup dan
mati. Banyak orang menyerahkan harta, tenaga, bahkan nyawanya untuk mendirikan
negara yang baru lahir itu. Di tengah kekacauan pasca-penjajahan, muncul
berbagai kelompok sosial: bekas PETA dan KNIL, kaum pedagang, birokrat
peninggalan Belanda, tokoh agama, hingga para pejuang rakyat yang berjuang
tanpa pamrih. Mereka semua menjadi bagian dari fondasi negara — meski tak semua
akhirnya tercatat dalam sejarah.
Namun, seiring berjalannya waktu, politik
Indonesia mengalami pergeseran makna. Dari perjuangan yang berakar pada
idealisme dan pengorbanan, kini berubah menjadi arena opini, citra, dan
kompetisi narasi. Di era digital, politik tidak lagi hanya digerakkan oleh para
pelaku kekuasaan, tetapi juga oleh jutaan “komentator” di ruang maya —
orang-orang yang dengan mudah menyimpulkan arah bangsa hanya dari potongan
video atau unggahan singkat di media sosial.
Fenomena ini melahirkan paradoks baru: semakin
banyak orang berbicara tentang politik, semakin sedikit yang benar-benar
memahami akar sejarah dan struktur kekuasaan bangsa ini. Diskusi politik
berubah menjadi lomba menunjukkan keberpihakan, bukan pencarian kebenaran.
Padahal, di balik setiap keputusan politik hari ini, ada jejak panjang dari
masa-masa awal negara berdiri — masa ketika politik berarti perjuangan, bukan
sekadar perdebatan.
Bagian
yang paling “seru tapi miris” dari politik kita hari ini.
Kalau dilihat dari sudut pandang orang zaman sekarang, banyak banget
yang komentar soal politik seolah-olah mereka ngerti grand strategy
negara, padahal sering kali cuma “cuplikan info” dari media sosial — dan diolah
pakai emosi, bukan nalar sejarah atau konteks negara.
1.
Ilmu Politik di Era “Komentar Cepat”
Dulu, orang belajar politik lewat
pengalaman langsung atau literasi yang mendalam (buku, debat, organisasi).
Sekarang? Cukup scroll 10 detik di medsos, langsung merasa ngerti konstitusi,
geopolitik, bahkan teori konspirasi .
Fenomenanya:
- Analisa instan
tanpa memahami historical root (akar sejarah).
Misal: bilang “elite jahat dari dulu” tapi nggak tahu bagaimana sistem patronase itu terbentuk sejak 1945. - Menganggap politik itu moral hitam-putih, padahal politik itu soal interaksi kekuatan dan
kepentingan.
- Mengidolakan figur
tapi nggak kritis terhadap sistem.
Akibatnya, diskursus publik jadi dangkal
tapi gaduh.
2.
Era Medsos = Era Ilusi Pengetahuan
Media sosial memberi rasa “berdaya”
— semua orang bisa berpendapat. Tapi di sisi lain,
banyak yang nggak sadar bahwa
berpendapat ≠ memahami.
Contohnya:
- Orang ngomong soal “negara gagal” padahal indikator
ekonomi dan politiknya nggak dibaca.
- Komentar soal “elite pengkhianat bangsa” padahal itu
narasi lama sejak 1945 yang terus dipakai buat framing.
- Gampang banget nyebut “jualan negara ke asing”, padahal
nggak paham struktur ekonomi global.
Fenomena ini disebut “dunning-kruger
effect politik”: makin sedikit tahu, makin yakin dirinya benar
3.
Hilangnya Rasa Sejarah
Yang paling bahaya, banyak generasi
baru lupa bahwa:
Negara ini lahir dari kekacauan,
kompromi, dan perjuangan berbagai golongan — bukan satu aliran suci.
Jadi waktu mereka menilai masa lalu
dengan logika “politik sekarang”, jadinya salah tafsir:
- Tokoh yang dulu harus kompromi disebut “pengkhianat”.
- Yang diam dianggap “tidak berjuang”.
- Yang menentang disebut “pahlawan sejati” — padahal
konteksnya jauh lebih rumit.
Akhirnya, muncul dua kubu: yang
romantis berlebihan dan yang sinis total — padahal keduanya
kehilangan keseimbangan historis.
4.
Dari “Paham Politik” ke “Pamer Pandangan”
Sekarang politik sering jadi identitas
sosial — semacam “bendera digital”.
Komentar politik bukan untuk memahami, tapi untuk dilihat:
“Aku di kubu ini, kamu di kubu itu.”
Padahal dulu, diskursus politik itu
soal rakyat mau dibawa ke mana.
Sekarang banyak yang jadi soal siapa yang paling nyaring.
5.
Jadi Gimana Sebaiknya?
Menurutku bro, kalau mau jujur dan
jernih:
- Kita harus balik ke akar sejarah, supaya ngerti
kenapa sistem politik Indonesia begini.
- Bedakan antara opini dan analisis.
- Gunakan memori kolektif bangsa buat belajar, bukan buat saling nyalahin.
- Dan yang paling penting: nggak semua yang keras
bicara itu tahu isi negara.
“Di zaman awal kemerdekaan, orang berpolitik
dengan risiko nyawa. Di zaman sekarang, orang berpolitik dengan risiko sinyal
lemah.”
1.
Awal Pembentukan Negara (1945–1949)
Begitu Indonesia memproklamasikan
kemerdekaan (17 Agustus 1945), yang terbentuk itu belum negara mapan,
tapi embrio negara.
Ada berbagai kelompok dengan latar berbeda yang tiba-tiba harus menyesuaikan
diri:
- Eks pejuang dan milisi lokal (laskar, PETA, Hizbullah, KNIL pribumi yang berbalik
haluan).
- Kaum priyayi dan birokrat peninggalan Belanda/Jepang — mereka sudah paham administrasi.
- Kaum pedagang dan pengusaha pribumi & Tionghoa — banyak yang menyumbang logistik, uang, dan jaringan
ekonomi.
- Tokoh agama dan kelompok ideologis — dari Islam, nasionalis, sosialis, sampai komunis.
- Golongan oportunis / makelar politik — yang kamu sebut “kutu loncat” itu tepat banget.
Mereka lihat ke mana arah angin kekuasaan berembus.
Negara baru ini berdiri di tengah
kekacauan total, jadi semua kekuatan sosial itu jadi semacam “modal sosial”
yang direbut-rebut untuk diakui.
2.
Sumbangan Jiwa, Raga, dan Harta
Banyak banget tokoh dan warga biasa
yang nyumbang harta pribadi buat perjuangan.
Contoh historis:
- Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII: nyumbang kas keraton untuk modal pemerintahan RI di
Yogyakarta.
- Para saudagar Tionghoa dan Arab di Surabaya, Semarang,
Solo: bantu logistik dan dana
perjuangan.
- Masyarakat biasa:
relawan, tenaga, pangan.
Tapi: negara saat itu miskin
banget. Jadi nggak ada mekanisme kompensasi resmi.
Yang ada hanya pengakuan moral dan politik. Misalnya diberi posisi dalam
pemerintahan, militer, atau diplomasi — itu pun tergantung siapa yang menang
dalam perebutan kekuasaan.
3.
Kenapa Ada yang “Terlupakan”
Nah, di sinilah mulai muncul
ketimpangan sejarah:
- Mereka yang berpihak ke kubu yang kalah (misalnya
kiri/komunis, atau federalis) sering dihapus dari narasi resmi.
- Mereka yang tidak dekat dengan elite penguasa
pasca-1949 kehilangan akses politik dan ekonomi.
- Ada yang diingat hanya secara lokal, tidak
nasional — contoh: laskar daerah atau tokoh non-Jawa.
Makanya wajar kalau keturunan
tokoh yang dulu “di dalam sistem” bisa berkembang sampai sekarang (secara
ekonomi atau politik).
Sedangkan yang “terlupakan sejarah” banyak yang tidak punya rekam jejak di
arsip negara, padahal mereka ikut membangun.
4.
“Komunitas” Pasca-Penjajahan
Yang kamu sebut tadi:
- Komunitas peninggalan penjajah → birokrat dan pengusaha yang sudah punya modal dan
koneksi.
- Komunitas pedagang/pengusaha → jadi motor ekonomi awal RI.
- Kesatuan PETA/KNIL
→ fondasi TNI tapi juga sumber konflik (siapa yang lebih berhak disebut
pahlawan).
- Sengkuni dan kutu loncat → muncul dari politik patronase dan transaksional.
- Aliran “cuci tangan”
→ mereka yang oportunis, nunggu aman di tengah konflik ideologi
(1945–1965).
Itu semua membentuk DNA politik
Indonesia: kompromi, patronase, dan loyalitas personal lebih kuat dari
sistem.
5.
Apresiasi dan Kompensasi
Secara hukum, baru jauh hari
kemudian negara mengatur soal penghargaan veteran (misalnya UU Veteran
RI 1965).
Tapi kompensasi material untuk
penyumbang harta pribadi? Tidak pernah sistematis.
Biasanya cuma lewat jalur:
- Surat keterangan perjuangan (kadang jadi dasar
tunjangan),
- Pengakuan gelar pahlawan (lewat usulan daerah),
- Atau hubungan politik dengan elite berkuasa.
“Wajar kalau keturunan mereka berkembang
hingga sekarang, dan sebagian menjadi bagian yang terlupakan sejarah.”
Karena negara kita lahir bukan dari
sistem yang seragam, tapi dari kompromi dan kompetisi berbagai kelompok
sosial, di mana yang kuat mencatat sejarah — dan yang kalah dilupakan.
Daftar Pustaka
1.
George McTurnan
Kahin (1952). Nationalism and
Revolution in Indonesia. Cornell University Press. Karya klasik yang
menjelaskan bagaimana kekuatan sosial dan politik berebut pengaruh di masa
revolusi 1945–1949.
2.
Herbert Feith
(1962). The Decline of Constitutional
Democracy in Indonesia. Cornell University Press.
Mengulas kegagalan demokrasi awal dan munculnya politik kekuasaan pasca-1950.
3.
Deliar Noer (1987).
Administrasi Pemerintahan Indonesia.
Jakarta: Rajawali. Menjelaskan pembentukan birokrasi dan warisan kolonial yang
memengaruhi sistem politik Indonesia.
4.
M.C. Ricklefs
(2008). Sejarah Indonesia Modern
1200–2008. Jakarta: Serambi.
Memberi konteks sejarah panjang pembentukan masyarakat dan elite politik
Indonesia.
5.
Benedict Anderson
(1983). Language and Power:
Exploring Political Cultures in Indonesia. Cornell University Press.
Menelusuri budaya politik dan kekuasaan dalam masyarakat Indonesia sejak awal
kemerdekaan.
6.
Ignas Kleden
(2004). Sikap Ilmiah dan Kritik
Kebudayaan. Jakarta: LP3ES.
Mengulas perilaku sosial dan kecenderungan berpikir masyarakat, termasuk dalam
menilai politik.
7.
Ariel Heryanto
(2015). Identitas dan Kenikmatan:
Politik Budaya Layar Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.
Relevan untuk memahami politik media dan fenomena “komentar digital” di era
modern.
8.
Ross Tapsell
(2017). Media Power in Indonesia:
Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution. Rowman & Littlefield.
Mengulas hubungan antara kekuasaan, media, dan publik di era digital Indonesia.

0 Komentar