Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

“Saat Cinta Tidak Menjadi Milik Waktu”

 



“Cinta Mengenali Rumahnya: Tentang Cinta yang Tak Pernah Dipaksa”


Cinta tak pernah lahir dari paksaan.
Ia bukan benih yang tunduk pada kehendak tangan manusia,
sebab tangan hanya tahu menanam,
tak pernah tahu memilih jiwa.

 

Sebanyak apa pun tanah disiram dan dipupuk,
air hanya menggenangi permukaan,
dan pupuk hanya menguatkan yang memang ingin hidup.

 

Jika cinta tak berkehendak tumbuh di sana,
akar tak akan mengenal arah,
dan benih tak pernah memanggil cahaya.

 

Maka tanah itu tetap sunyi—
bukan karena ia miskin perawatan,
melainkan karena cinta
tak pernah berjanji pada semua tempat.

 

Cinta memiliki kehendaknya sendiri.
Ia datang bukan karena dirayu,
bukan pula karena diminta,
sebab rayuan hanya menggugah telinga,
bukan arah pulang.

 

Ia melangkah tanpa mengetuk,
tanpa menawar,
tanpa menunggu persetujuan akal.

 

Ia hadir karena ia mengenali rumahnya—
bukan dari rupa,
bukan dari kata,
melainkan dari getar yang berkata:
di sinilah aku berhenti mencari.

 

Cinta melampaui ruang dan waktu.
Ia tak berjalan bersama jarak,
dan tak menua bersama hitungan tahun.

 

Apa yang bertaut pada awal perjumpaan
bukan simpul yang diikat oleh hari,
melainkan pertemuan yang telah terjadi
sebelum langkah pertama diambil.

 

Jarak hanya memisahkan tubuh,
waktu hanya menggeser peristiwa;
namun yang sejak awal saling mengenali
tak pernah benar-benar berpisah.

 

Maka ia tak dihapus oleh jarak,
dan tak dilunturkan oleh tahun-tahun yang berjalan,
sebab cinta
tidak hidup di antara,
melainkan di kedalaman.

 

Maka bila cinta itu sejati,
antara yang bercinta,
ia tak berubah oleh perjalanan hari.

 

Ia tetap seperti saat pertama
mata saling menemukan—
bukan karena waktu berhenti,
melainkan karena cinta
tak pernah berjalan di atas jam.

 

Zaman boleh berlapis-lapis berlalu,
rambut boleh memutih,
langkah boleh melambat;
namun yang saling mengenali sejak mula
tak pernah benar-benar meninggalkan awalnya.

 

Sebab cinta sejati
tidak bergerak menjauh dari perjumpaan,
ia justru semakin pulang ke sana.

 

Posting Komentar

0 Komentar