Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Ticker

6/recent/ticker-posts

“Kenapa Toyota Kijang Karbu Susah Irit? Ini Penjelasan Teknis Rasio Gigi & Karburator”

 

 

Setting Karburator Toyota Kijang Karbu untuk Harian: Kenapa 115/150 Sudah Cukup?

 

Pendahuluan

Toyota Kijang generasi karburator dikenal sebagai mobil tangguh, awet, dan multifungsi. Sejak awal, Kijang dirancang bukan hanya untuk kendaraan keluarga, tetapi juga untuk kebutuhan angkut barang dan usaha. Karena itu, karakter mesinnya lebih mengutamakan daya tahan dan torsi, bukan kecepatan tinggi.

Salah satu topik yang sering dibahas pemilik Kijang karbu adalah setting spuyer (main jet) primer dan sekunder, terutama untuk efisiensi bahan bakar dan kenyamanan harian.

Karakter Mesin Kijang Karburator

Mesin Kijang karbu (seri 4K, 5K, 7K) memiliki karakter utama:

  • Kapasitas besar (1300–1800 cc)
  • Fokus pada torsi putaran bawah–menengah
  • Dirancang untuk kerja berat
  • Sistem bahan bakar masih konvensional (karburator)

Dari sisi desain, mesin ini tidak dioptimalkan untuk putaran tinggi secara terus-menerus, seperti mesin mobil modern.

Karena itu, penggunaan harian di dalam kota, jalan datar, dan kecepatan moderat (80–100 km/jam) sudah sesuai dengan karakter aslinya.

 

Fungsi Spuyer Primer dan Sekunder

Pada karburator Kijang tipe double barrel:

  • Spuyer primer (contoh: 115)
    → bekerja pada RPM rendah sampai menengah
    → dipakai saat jalan normal
  • Spuyer sekunder (contoh: 150 / 167)
    → aktif saat gas dibuka besar
    → dipakai saat akselerasi kuat atau kecepatan tinggi

Dalam pemakaian harian, mayoritas waktu mobil berada di jalur primer, bukan sekunder.

Artinya, untuk penggunaan normal, yang paling berpengaruh justru spuyer primer.

 

Kenapa Kombinasi 115 / 150 Sudah Ideal?

Untuk penggunaan:

  • Dalam kota
  • Jalan datar
  • Kecepatan maksimal ±100 km/jam
  • Tidak rutin masuk tol / ngebut

Kombinasi:

Primer 115 – Sekunder 150

sudah sangat mencukupi.

Alasannya:

1. Suplai BBM Cukup di RPM Menengah

Ukuran 115 mampu menyuplai bahan bakar dengan stabil di putaran 2.000–4.500 RPM, yaitu area kerja utama Kijang saat harian.

2. Sekunder 150 Masih Aman untuk Nyalip

Saat dibutuhkan tenaga lebih (nyalip, tanjakan ringan), sekunder 150 sudah cukup memberi tambahan BBM tanpa membuat mesin terlalu boros.

3. Lebih Stabil dan Mudah Disetel

Kombinasi ini cenderung:

  • Idle stabil
  • Tidak mudah brebet
  • Tidak terlalu panas
  • AFR lebih seimbang

4. Tidak Over-Supply BBM

Ukuran 167 biasanya terlalu besar untuk pemakaian normal, sehingga:

  • Campuran terlalu kaya
  • Konsumsi BBM meningkat
  • Tenaga tidak selalu bertambah signifikan

 

Kaitan dengan Rasio Gigi Kijang

Salah satu faktor utama borosnya Kijang bukan hanya karbu, tapi rasio transmisi.

Kijang dirancang untuk:

  • Muat beban
  • Jalan tanjakan
  • Angkut barang

Maka rasio giginya:

  • Gigi 1–3 pendek
  • Final gear relatif berat
  • RPM cepat naik

Akibatnya:

Pada kecepatan 80–100 km/jam, RPM mesin masih cukup tinggi dibanding mobil modern.

RPM tinggi = kebutuhan BBM lebih besar.

Jadi walaupun jetting sudah kecil:
➡️ Mesin tetap butuh bensin lebih banyak karena desain girboksnya.

Ini adalah karakter bawaan pabrik, bukan kesalahan setting.

 

Fenomena “Mengiritkan Kijang” yang Sering Gagal

Banyak pemilik mencoba:

  • Mengecilkan spuyer ekstrem
  • Setting angin terlalu tipis
  • Modif aneh-aneh
  • Pakai alat tambahan irit

Namun hasilnya sering:

Mesin ngempos
Tarikan berat
Mesin panas
Konsumsi tetap boros
Malah lebih tidak nyaman

Penyebab Utamanya:

1. Bobot Mobil Berat

Kijang jauh lebih berat dari mobil kecil. Energi yang dibutuhkan untuk bergerak otomatis lebih besar.

2. Aerodinamika Kurang Baik

Bentuk kotak → hambatan angin besar → butuh tenaga ekstra di kecepatan tinggi.

3. Teknologi Lama

Karburator tidak sepresisi injeksi. Pengaturan BBM masih kasar.

4. Setting Terlalu Kurus Tidak Efisien

Campuran terlalu miskin justru:

  • Bikin mesin kerja lebih keras
  • Konsumsi naik secara tidak langsung
  • Risiko overheat

Karena itu, banyak upaya “super irit” pada Kijang karbu berakhir tidak sesuai harapan.

 

Realita Konsumsi BBM Kijang Karbu

Dalam kondisi sehat dan setting normal:

Kijang karbu umumnya:

  • Dalam kota: 7–9 km/l
  • Luar kota santai: 9–11 km/l
  • Sangat optimal: ±12 km/l

Angka di atas sudah tergolong wajar untuk desainnya.

Jika ada klaim 15–18 km/l secara konsisten, biasanya tidak realistis untuk pemakaian normal.

 

Rekomendasi Resmi untuk Pemakaian Harian

Untuk mayoritas pengguna Kijang karbu:

Setting Ideal:

  • Primer: 115
  • Sekunder: 150
  • Setelan angin: 1,5 – 2 putaran
  • Pelampung: standar pabrik

Fokus Perawatan:

  • Karbu bersih
  • Filter udara bagus
  • Pengapian sehat
  • Ban sesuai tekanan
  • Beban tidak berlebih

Ini jauh lebih efektif daripada mengejar spuyer super kecil.

 

 

Rasio Gigi Toyota Kijang Karburator dan Dampaknya terhadap Konsumsi BBM

1. Latar Belakang Desain Kijang

Sejak awal dikembangkan, Toyota Kijang bukan ditujukan sebagai mobil komuter ringan seperti sedan atau hatchback. Kijang dirancang sebagai:

  • Kendaraan keluarga sekaligus niaga ringan
  • Mobil angkut barang
  • Kendaraan untuk daerah berbukit dan jalan berat

Karena fungsi ini, Toyota lebih memprioritaskan:

✔️ Daya angkut
✔️ Ketahanan mesin
✔️ Torsi putaran bawah
✔️ Kemampuan menanjak

dibanding efisiensi bahan bakar pada kecepatan tinggi.

Desain ini sangat memengaruhi pemilihan rasio transmisi.

 

2. Karakter Rasio Gigi Kijang Karburator

Pada Kijang karburator bermesin 4K, 5K, dan 7K, rasio transmisi pabrikan tergolong relatif besar (short ratio / heavy ratio).

Ciri Umum:

  • Final gear sekitar ±4,7 : 1 (pada beberapa varian bensin)
  • Rasio gigi 1–3 masih tergolong pendek
  • Overdrive di gigi tinggi masih terbatas

Artinya:

👉 Mesin harus berputar lebih banyak untuk menghasilkan satu putaran roda.

Secara mekanis:

  • 4,7 putaran mesin ≈ 1 putaran roda
  • Ditambah lagi dengan rasio gigi di gearbox

Akibatnya, pada kecepatan yang sama, RPM Kijang lebih tinggi dibanding mobil dengan rasio lebih kecil.

 

3. Dampak Rasio Besar terhadap Performa Harian

Keuntungan: Torsi Kuat

Dengan rasio besar:

  • Start lebih ringan
  • Tidak mudah mati saat bawa beban
  • Kuat di tanjakan
  • Cocok untuk muatan berat

Inilah alasan Kijang terkenal “badak” dan tahan banting.

 

Konsekuensi: RPM Tinggi saat Jalan Cepat

Namun, konsekuensinya:

Pada kecepatan:

  • 80 km/jam
  • 90 km/jam
  • 100 km/jam

RPM mesin masih relatif tinggi.

Contoh umum di lapangan:

  • 80 km/jam → ±3.000 rpm
  • 100 km/jam → ±3.800–4.200 rpm

Sementara mobil modern bisa di:

  • 100 km/jam → ±2.000–2.500 rpm

Inilah sumber utama borosnya Kijang saat cruising.

 

4. Hubungan RPM Tinggi dan Konsumsi BBM

Secara teori mesin pembakaran dalam:

Semakin tinggi RPM →
✔️ Frekuensi pembakaran makin sering
✔️ Volume udara makin besar
✔️ Injeksi/karbu menyuplai BBM lebih banyak
✔️ Gesekan mekanis meningkat

Penelitian pada mesin Kijang menunjukkan bahwa:

Konsumsi bahan bakar meningkat seiring kenaikan RPM kerja mesin.

Contohnya:

  • 2000 RPM → konsumsi relatif irit
  • 3000 RPM → mulai meningkat
  • 4000 RPM → boros signifikan

Ini karena mesin membutuhkan energi lebih besar untuk:

  • Mengatasi gesekan internal
  • Menggerakkan komponen mesin
  • Melawan hambatan udara

Jadi RPM tinggi = beban kerja tinggi = BBM lebih banyak.

 

5. Kijang: Fokus Torsi, Bukan Efisiensi Jelajah

Toyota sadar bahwa Kijang akan lebih sering dipakai untuk:

✔️ Angkut barang
✔️ Jalan rusak
✔️ Tanjakan
✔️ Daerah pedesaan

Maka dipilihlah rasio yang:

  • Memudahkan start dengan beban
  • Menjaga mesin tidak “ngeden”
  • Memperpanjang usia kopling
  • Mempermudah pengemudi awam

Namun, desain ini mengorbankan efisiensi jelajah.

Saat digunakan di jalan lurus dan cepat:

➡️ Mesin tetap dipaksa bekerja di RPM tinggi.

Ini bukan kelemahan desain, tetapi kompromi fungsi.

 

6. Ilustrasi Kerja Gigi 1–5

Secara umum karakter gigi Kijang:

Gigi 1–2

  • Rasio sangat besar
  • Fokus torsi
  • Untuk start dan tanjakan

Gigi 3

  • Masih cukup besar
  • Masih dominan torsi
  • Cocok untuk jalan kota

Gigi 4–5

  • Lebih kecil
  • Tapi masih tergolong “pendek”
  • Belum benar-benar overdrive

Akibatnya:

Saat melaju 80–100 km/jam di gigi 3–4:

  • RPM masih tinggi
  • Mesin sering berada di area konsumsi besar
  • Efisiensi turun

Inilah sebabnya Kijang terasa “teriak” di jalan cepat.

 

7. Mengapa Jetting Karburator Tidak Bisa Mengatasi Ini

Banyak pemilik mencoba mengiritkan Kijang dengan:

  • Mengecilkan spuyer
  • Mengatur jarum angin ekstrem
  • Memiskinkan campuran

Namun secara teknik:

👉 Jetting hanya mengatur rasio udara–bahan bakar
👉 Bukan mengubah kebutuhan tenaga mekanis

Jika mobil butuh:

  • 4.000 rpm untuk 100 km/jam

Maka:
➡️ Mesin tetap butuh BBM sesuai RPM tersebut.

Kalau dipaksakan kurus:

  • Mesin panas
  • Tenaga turun
  • Risiko rusak
  • Konsumsi real sering malah naik

Karena mesin bekerja lebih keras.

 

 

Mengapa Jetting Karburator Tidak Bisa Mengatasi Borosnya Kijang di RPM Tinggi

Dalam banyak komunitas dan bengkel, pemilik Kijang karbu sering mencoba “mengirit” dengan berbagai cara pada karburator, seperti:

  • Mengecilkan spuyer utama
  • Mengatur jarum angin secara ekstrem
  • Membuat campuran udara–bahan bakar menjadi sangat kurus

Namun, secara prinsip mesin bensin, ini tidak akan menyelesaikan akar masalah konsumsi BBM yang tinggi jika penyebab utama adalah RPM kerja mesin yang tinggi akibat rasio gigi transmisi.

 

1. Jetting Hanya Mengatur Rasio Udara–Bahan Bakar

Karburator itu fungsinya:

👉 Mengatur massa udara dan bensin yang masuk ke ruang bakar sehingga perbandingan campuran (Air-Fuel Ratio / AFR) sesuai kebutuhan kondisi mesin. (X Engineer)

Namun perlu dicatat:

  • Jetting tidak mengubah kebutuhan tenaga mekanis mesin
  • Jetting tidak mengubah karakter RPM yang dibutuhkan untuk mempertahankan kecepatan tertentu
  • Jetting tidak mengubah jumlah putaran mesin yang diperlukan pada kecepatan jelajah tertentu

Dengan kata lain:

Jetting mengatur campuran bahan bakar,
tetapi bukan kebutuhan bahan bakar absolut yang ditentukan oleh RPM kerja mesin.

 

2. Efek Campuran Kurus (Lean) Tidak Selalu Irit

Secara teori, campuran yang kurus (lean) bisa menghasilkan konsumsi bahan bakar rendah jika mesin bekerja pada beban dan RPM tertentu yang optimal.

Menurut literatur teknik otomotif tentang Air-Fuel Ratio:

👉 Campuran kurus dapat memberikan efisiensi konsumsi bahan bakar terbaik karena lebih sedikit bensin yang dibakar untuk setiap unit udara yang masuk, tetapi itu terjadi pada kondisi tertentu dan bukan pada RPM tinggi yang memerlukan tenaga besar. (X Engineer)

Namun demikian, jika dipaksakan terlalu kurus pada beban/percepatan tinggi, banyak masalah bisa muncul.

 

3. Campuran Kurus Dapat Meningkatkan Suhu dan Mengurangi Tenaga

Penelitian pada mesin spark-ignited (bensin) menunjukkan bahwa:

🔹 Campuran yang terlalu kurus menyebabkan pembakaran yang lebih panas, karena kurangnya bahan bakar yang mengabsorpsi panas pembakaran. Suhu pembakaran yang tinggi dapat menaikkan risiko kerusakan komponen mesin. (MDPI)
🔹 Mesin dengan campuran terlalu kurus sulit mencapai tenaga optimal, karena jika terlalu sedikit bensin, energi yang dihasilkan tidak cukup untuk mendorong pistons secara efektif. (MDPI)

Ini relevan dengan pengalaman di Kijang: mesin bisa terasa “mati suri”, panas, atau respons pengereman turun ketika campuran dibuat terlalu kurus untuk mengejar efisiensi.

 

4. Jetting Tidak Mengubah RPM Minimum yang Diperlukan

Ketika sebuah kendaraan membutuhkan:

➡️ ±4000 RPM pada 90–100 km/jam (angka tipikal untuk karburator Kijang karena rasio transmisi besar)

ini adalah kebutuhan mekanis, bukan pilihan campuran bensin.

Meskipun spuyer dibuat sangat kecil dan campuran sangat kurus:

  • Mesin tetap harus berputar ~4000 RPM
  • udara masuk tetap besar (karena throttle untuk mempertahankan kecepatan)
  • kebutuhan energi mekanis tetap tinggi

Sehingga:

Jetting yang ditujukan untuk irit tidak mengurangi kebutuhan bensin secara keseluruhan saat mesin dipaksa bekerja pada RPM tinggi.

Justru, bila campuran terlalu kurus di RPM tinggi:

✔️ Mesin menjadi panas
✔️ Tenaga menurun
✔️ Ada risiko detonation / knocking
✔️ Konsumsi bahan bakar malah bisa tidak turun signifikan karena mesin justru “dipaksa bekerja keras” untuk mempertahankan tenaga dan putaran yang diperlukan.

Ini sesuai dengan temuan bahwa pada mesin bensin, terlalu kurus itu menyebabkan kerja mesin tidak optimal bahkan pada putaran tertentu sekalipun. (MDPI)

 

5. Hubungan RPM, Campuran, dan Konsumsi BBM

Pahami konsep penting ini:

🔹 Air-Fuel Ratio (AFR)

AFR yang ideal (sekitar stoikiometrik 14,7:1 untuk bensin) adalah kompromi antara tenaga dan efisiensi. (X Engineer)

🔹 Rich vs Lean Conditions

  • Campuran rich (banyak bahan bakar) → tenaga lebih besar tetapi boros
  • Campuran lean (sedikit bensin dibanding udara) → efisiensi bisa lebih baik tetapi di RPM tinggi bisa:
    • meningkatkan suhu
    • mengurangi daya
    • menyebabkan mesin lebih keras bekerja (X Engineer)

👉 Intinya: AFR yang optimal berubah berdasarkan beban dan RPM kerja mesin.

 

6. Pemeriksaan Praktis: Jetting Tidak Merubah Mekanik

Secara singkat:

Faktor

Jetting Karburator

Rasio Gigi Transmisi

Mengatur campuran

Mengubah RPM mesin

Mengubah kebutuhan energi

Mengubah karakter torsi

Ini berarti:

Jetting hanya bisa menyempurnakan pembakaran,
tetapi tidak bisa mengubah bagaimana drivetrain memaksa mesin bekerja pada titik putaran tertentu.

 

Kesimpulan Inti

Secara teknis:

✔️ Jetting karburator mengatur rasio udara–bahan bakar (AFR)
✔️ Rasio gigi transmisi mengatur kebutuhan putaran mesin
✔️ Jetting tidak bisa mereduksi kebutuhan RPM dan tenaga mekanis yang ditentukan oleh drivetrain
✔️ Terlalu kurus pada RPM yang tinggi justru berisiko membuat mesin:

  • panas
  • kurang bertenaga
  • konsumsi BBM tidak turun secara signifikan
  • berpotensi kerusakan internal (MDPI)

Secara sederhana:

Mengurangi ukuran spuyer atau memiskinkan campuran tidak akan mencegah konsumsi besar jika mesin masih bekerja pada RPM tinggi karena karakter rasio gigi drivetrain.

 

 

8. Batasan Fisik: Drivetrain & Aerodinamika

Selain rasio gir, Kijang juga dibatasi oleh:

Bobot

Kijang berat → butuh tenaga besar.

Bentuk Bodi

Bentuk kotak → hambatan udara tinggi.

Teknologi

Karburator → kontrol BBM kurang presisi.

Semua faktor ini membuat “irit ekstrem” sulit dicapai.

 

9. Inti Kaitan Rasio Gigi & BBM Kijang

Secara ringkas dan teknis:

1. Rasio besar → torsi kuat → cocok kerja berat
2. Rasio besar → RPM tinggi di cruising
3. RPM tinggi → suplai BBM meningkat
4. Jetting tidak mengubah rasio mekanis
5. Boros relatif = karakter desain

Jadi konsumsi BBM Kijang lebih dipengaruhi oleh:

➡️ Desain drivetrain
➡️ Rasio gir
➡️ Bobot & aerodinamika

bukan semata-mata setting karburator.

 

10. Kesimpulan Teknis

Toyota Kijang karburator adalah kendaraan multifungsi berbasis torsi, bukan kendaraan efisiensi tinggi.

Rasio transmisinya sengaja dibuat:

✔️ Kuat
✔️ Tahan
✔️ Mudah dipakai bawa beban

Dengan konsekuensi:

RPM tinggi saat jalan cepat
Konsumsi BBM relatif besar
Sulit dibuat super irit

Karakter ini melekat sejak pabrik dan tidak bisa dihilangkan hanya dengan setting karburator.

  

Kesimpulan

Toyota Kijang karburator memang bukan mobil yang dirancang untuk super irit atau kecepatan tinggi.

Karakter aslinya adalah:
✔️ Kuat
✔️ Tahan banting
✔️ Torsi besar
✔️ Andal untuk kerja berat

Untuk penggunaan harian non-tol, kombinasi:

115 / 150

sudah paling seimbang antara:

  • Tenaga
  • Kenyamanan
  • Keawetan
  • Konsumsi BBM

Upaya memaksakan irit ekstrem sering gagal karena bertentangan dengan desain dasar mesin dan transmisinya.

Lebih baik menjaga kondisi mesin tetap sehat daripada mengejar angka konsumsi yang tidak realistis.

 

 

Daftar Pustaka

1. Rasio Gigi & Pengaruhnya terhadap Konsumsi BBM

  1. Çilingiroğlu, U. C., & Karamangil, M. İ. (2025). Fuel Consumption of Backward Vehicle Simulation Following Minimum Fuel Consumption Curve for Optimum Gear Ratios. Machines. Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio gigi memengaruhi konsumsi BBM melalui pemilihan rasio yang memungkinkan operasi dekat kurva konsumsi minimum. (MDPI)
  2. More efficiency in fuel consumption using gearbox optimization based on Taguchi method. (Journal of Industrial Engineering International, 2014). Studi ini membahas hubungan pemilihan rasio gigi dengan konsumsi bahan bakar optimal melalui model simulasi mesin dan transmisi. (SpringerLink)
  3. Experimental evaluation of gear-shift and internal-combustion engine variables on fuel consumption (Transportation Research Procedia, 2022). Penelitian ini menunjukkan pengaruh pemilihan gigi dan RPM terhadap konsumsi serta emisi kendaraan. (ScienceDirect)

2. Hubungan RPM, Rasio Gigi, dan Konsumsi BBM

  1. Artikel populer tentang cara pilihan rasio gigi memengaruhi efisiensi BBMsemakin besar rasio, semakin tinggi RPM pada kecepatan tertentu → konsumsi BBM naik. Ini sesuai dengan literatur transmisi & efisiensi BBM yang dijelaskan dalam otomotif umum. (KOMBI.ID)
  2. Analisis Kinerja Sistem Transmisi Pada Mobil Hemat Energi — penelitian laporan teknis yang menemukan semakin tinggi RPM dengan rasio tertentu, konsumsi BBM yang digunakan juga meningkat. (eprints.itenas.ac.id)

3. AFR (Air–Fuel Ratio) dan Efeknya terhadap Performa Mesin

  1. Air fuel ratio and engine performance (x-engineer.org) — menjelaskan hubungan AFR dengan konsumsi BBM dan tenaga mesin, bahwa AFR ideal berbeda antara efisiensi dan tenaga, dan campuran terlalu lean tidak otomatis hemat pada kondisi beban/torsi tinggi. (X Engineer)
  2. Mohammed, S. E., Baharom, M. B., & Aziz, A. R. (2018). The Influence of Air-Fuel Equivalence Ratio on the Performance and Emission Characteristics of a Crank-rocker Engine — studi eksperimental menunjukkan performa mesin dan efisiensi sangat dipengaruhi oleh rasio setara udara–bahan bakar (equivalence ratio). (sciencepubco.com)
  3. Munahar, S., & Setiyo, M. (2017). AFR Modeling of EFI Engine Based on Engine Dynamics, Vehicle Dynamics, and Transmission System — penelitian ini secara teoretis menyatakan AFR dipengaruhi oleh parameter mesin, kecepatan kendaraan dan posisi gigi/transmisi. (jtm.itp.ac.id)

4. Prinsip Mesin Bensin, Campuran Lean/Rich, & Efisiensi BBM

  1. Optimasi AFR pada Gasoline Engine Menggunakan Vehicle Speed Sensor — meskipun terfokus pada kontrol AFR, artikel ini menegaskan bahwa optimasi AFR sangat penting untuk efisiensi BBM tetapi tetap mempertimbangkan dinamika mesin dan beban. (journal.unimma.ac.id)
  2. DESAIN KONTROL AIR FUEL RATIO (AFR) PADA MODEL SPARK IGNITION ENGINE — menjelaskan hubungan langsung AFR dan karakter pembakaran pada mesin bensin. (Undip E-Journal System)

 

Catatan

Semua sumber di atas dapat dijadikan rujukan ilmiah dan teknis untuk menjelaskan:

  • Rasio gigi transmisi berdampak pada RPM kerja mesin dan akhirnya memengaruhi konsumsi BBM. (SpringerLink)
  • Gear selection (pemilihan gigi) berhubungan langsung dengan konsumsi BBM dan emisi. (ScienceDirect)
  • AFR dan campuran udara–bahan bakar menentukan karakter pembakaran, tetapi tidak bisa merubah kebutuhan energi mekanis yang ditentukan oleh rasio gigi dan RPM. (X Engineer)
  • Setting AFR saja tidak cukup untuk menurunkan konsumsi BBM jika mesin tetap dipaksa bekerja di RPM tinggi. (sciencepubco.com)

 

terkait ke > https://montirpalsu.blogspot.com/2026/01/bukan-radiator-bukan-koil-akar-masalah.html

Posting Komentar

0 Komentar