Setting Karburator Toyota Kijang Karbu untuk Harian:
Kenapa 115/150 Sudah Cukup?
Pendahuluan
Toyota
Kijang generasi karburator dikenal sebagai mobil tangguh, awet, dan
multifungsi. Sejak awal, Kijang dirancang bukan hanya untuk kendaraan keluarga,
tetapi juga untuk kebutuhan angkut barang dan usaha. Karena itu, karakter
mesinnya lebih mengutamakan daya tahan dan torsi, bukan kecepatan
tinggi.
Salah
satu topik yang sering dibahas pemilik Kijang karbu adalah setting spuyer
(main jet) primer dan sekunder, terutama untuk efisiensi bahan bakar dan
kenyamanan harian.
Karakter Mesin Kijang Karburator
Mesin
Kijang karbu (seri 4K, 5K, 7K) memiliki karakter utama:
- Kapasitas besar
(1300–1800 cc)
- Fokus pada torsi
putaran bawah–menengah
- Dirancang untuk
kerja berat
- Sistem bahan
bakar masih konvensional (karburator)
Dari
sisi desain, mesin ini tidak dioptimalkan untuk putaran tinggi secara
terus-menerus, seperti mesin mobil modern.
Karena
itu, penggunaan harian di dalam kota, jalan datar, dan kecepatan moderat
(80–100 km/jam) sudah sesuai dengan karakter aslinya.
Fungsi
Spuyer Primer dan Sekunder
Pada
karburator Kijang tipe double barrel:
- Spuyer primer
(contoh: 115)
→ bekerja pada RPM rendah sampai menengah
→ dipakai saat jalan normal - Spuyer sekunder
(contoh: 150 / 167)
→ aktif saat gas dibuka besar
→ dipakai saat akselerasi kuat atau kecepatan tinggi
Dalam
pemakaian harian, mayoritas waktu mobil berada di jalur primer, bukan
sekunder.
Artinya,
untuk penggunaan normal, yang paling berpengaruh justru spuyer primer.
Kenapa
Kombinasi 115 / 150 Sudah Ideal?
Untuk
penggunaan:
- Dalam kota
- Jalan datar
- Kecepatan
maksimal ±100 km/jam
- Tidak rutin
masuk tol / ngebut
Kombinasi:
Primer
115 – Sekunder 150
sudah
sangat mencukupi.
Alasannya:
1.
Suplai BBM Cukup di RPM Menengah
Ukuran
115 mampu menyuplai bahan bakar dengan stabil di putaran 2.000–4.500 RPM, yaitu
area kerja utama Kijang saat harian.
2.
Sekunder 150 Masih Aman untuk Nyalip
Saat
dibutuhkan tenaga lebih (nyalip, tanjakan ringan), sekunder 150 sudah cukup
memberi tambahan BBM tanpa membuat mesin terlalu boros.
3.
Lebih Stabil dan Mudah Disetel
Kombinasi
ini cenderung:
- Idle stabil
- Tidak mudah
brebet
- Tidak terlalu
panas
- AFR lebih
seimbang
4.
Tidak Over-Supply BBM
Ukuran
167 biasanya terlalu besar untuk pemakaian normal, sehingga:
- Campuran terlalu
kaya
- Konsumsi BBM
meningkat
- Tenaga tidak
selalu bertambah signifikan
Kaitan
dengan Rasio Gigi Kijang
Salah
satu faktor utama borosnya Kijang bukan hanya karbu, tapi rasio transmisi.
Kijang
dirancang untuk:
- Muat beban
- Jalan tanjakan
- Angkut barang
Maka
rasio giginya:
- Gigi 1–3 pendek
- Final gear
relatif berat
- RPM cepat naik
Akibatnya:
Pada
kecepatan 80–100 km/jam, RPM mesin masih cukup tinggi dibanding mobil modern.
RPM
tinggi = kebutuhan BBM lebih besar.
Jadi
walaupun jetting sudah kecil:
➡️ Mesin tetap butuh
bensin lebih banyak karena desain girboksnya.
Ini
adalah karakter bawaan pabrik, bukan kesalahan setting.
Fenomena
“Mengiritkan Kijang” yang Sering Gagal
Banyak
pemilik mencoba:
- Mengecilkan
spuyer ekstrem
- Setting angin
terlalu tipis
- Modif aneh-aneh
- Pakai alat
tambahan irit
Namun
hasilnya sering:
❌ Mesin ngempos
❌ Tarikan berat
❌ Mesin panas
❌ Konsumsi tetap boros
❌ Malah lebih tidak
nyaman
Penyebab
Utamanya:
1.
Bobot Mobil Berat
Kijang
jauh lebih berat dari mobil kecil. Energi yang dibutuhkan untuk bergerak
otomatis lebih besar.
2.
Aerodinamika Kurang Baik
Bentuk
kotak → hambatan angin besar → butuh tenaga ekstra di kecepatan tinggi.
3.
Teknologi Lama
Karburator
tidak sepresisi injeksi. Pengaturan BBM masih kasar.
4.
Setting Terlalu Kurus Tidak Efisien
Campuran
terlalu miskin justru:
- Bikin mesin
kerja lebih keras
- Konsumsi naik
secara tidak langsung
- Risiko overheat
Karena
itu, banyak upaya “super irit” pada Kijang karbu berakhir tidak sesuai harapan.
Realita
Konsumsi BBM Kijang Karbu
Dalam
kondisi sehat dan setting normal:
Kijang
karbu umumnya:
- Dalam kota: 7–9
km/l
- Luar kota
santai: 9–11 km/l
- Sangat optimal:
±12 km/l
Angka
di atas sudah tergolong wajar untuk desainnya.
Jika
ada klaim 15–18 km/l secara konsisten, biasanya tidak realistis untuk pemakaian
normal.
Rekomendasi
Resmi untuk Pemakaian Harian
Untuk
mayoritas pengguna Kijang karbu:
Setting
Ideal:
- Primer: 115
- Sekunder: 150
- Setelan angin:
1,5 – 2 putaran
- Pelampung:
standar pabrik
Fokus
Perawatan:
- Karbu bersih
- Filter udara
bagus
- Pengapian sehat
- Ban sesuai
tekanan
- Beban tidak
berlebih
Ini
jauh lebih efektif daripada mengejar spuyer super kecil.
Rasio Gigi Toyota Kijang Karburator dan Dampaknya
terhadap Konsumsi BBM
1.
Latar Belakang Desain Kijang
Sejak
awal dikembangkan, Toyota Kijang bukan ditujukan sebagai mobil komuter ringan
seperti sedan atau hatchback. Kijang dirancang sebagai:
- Kendaraan
keluarga sekaligus niaga ringan
- Mobil angkut
barang
- Kendaraan untuk
daerah berbukit dan jalan berat
Karena
fungsi ini, Toyota lebih memprioritaskan:
✔️ Daya angkut
✔️ Ketahanan mesin
✔️ Torsi putaran bawah
✔️ Kemampuan menanjak
dibanding
efisiensi bahan bakar pada kecepatan tinggi.
Desain
ini sangat memengaruhi pemilihan rasio transmisi.
2.
Karakter Rasio Gigi Kijang Karburator
Pada
Kijang karburator bermesin 4K, 5K, dan 7K, rasio transmisi pabrikan tergolong relatif
besar (short ratio / heavy ratio).
Ciri
Umum:
- Final gear
sekitar ±4,7 : 1 (pada beberapa varian bensin)
- Rasio gigi 1–3
masih tergolong pendek
- Overdrive di
gigi tinggi masih terbatas
Artinya:
👉 Mesin harus berputar
lebih banyak untuk menghasilkan satu putaran roda.
Secara
mekanis:
- 4,7 putaran
mesin ≈ 1 putaran roda
- Ditambah lagi
dengan rasio gigi di gearbox
Akibatnya,
pada kecepatan yang sama, RPM Kijang lebih tinggi dibanding mobil dengan rasio
lebih kecil.
3.
Dampak Rasio Besar terhadap Performa Harian
✅ Keuntungan: Torsi
Kuat
Dengan
rasio besar:
- Start lebih
ringan
- Tidak mudah mati
saat bawa beban
- Kuat di tanjakan
- Cocok untuk
muatan berat
Inilah
alasan Kijang terkenal “badak” dan tahan banting.
Konsekuensi:
RPM Tinggi saat Jalan Cepat
Namun,
konsekuensinya:
Pada
kecepatan:
- 80 km/jam
- 90 km/jam
- 100 km/jam
RPM
mesin masih relatif tinggi.
Contoh
umum di lapangan:
- 80 km/jam →
±3.000 rpm
- 100 km/jam →
±3.800–4.200 rpm
Sementara
mobil modern bisa di:
- 100 km/jam →
±2.000–2.500 rpm
Inilah
sumber utama borosnya Kijang saat cruising.
4.
Hubungan RPM Tinggi dan Konsumsi BBM
Secara
teori mesin pembakaran dalam:
Semakin
tinggi RPM →
✔️ Frekuensi pembakaran
makin sering
✔️ Volume udara makin
besar
✔️ Injeksi/karbu
menyuplai BBM lebih banyak
✔️ Gesekan mekanis
meningkat
Penelitian
pada mesin Kijang menunjukkan bahwa:
Konsumsi
bahan bakar meningkat seiring kenaikan RPM kerja mesin.
Contohnya:
- 2000 RPM →
konsumsi relatif irit
- 3000 RPM → mulai
meningkat
- 4000 RPM → boros
signifikan
Ini
karena mesin membutuhkan energi lebih besar untuk:
- Mengatasi
gesekan internal
- Menggerakkan
komponen mesin
- Melawan hambatan
udara
Jadi
RPM tinggi = beban kerja tinggi = BBM lebih banyak.
5.
Kijang: Fokus Torsi, Bukan Efisiensi Jelajah
Toyota
sadar bahwa Kijang akan lebih sering dipakai untuk:
✔️ Angkut barang
✔️ Jalan rusak
✔️ Tanjakan
✔️ Daerah pedesaan
Maka
dipilihlah rasio yang:
- Memudahkan start
dengan beban
- Menjaga mesin
tidak “ngeden”
- Memperpanjang
usia kopling
- Mempermudah
pengemudi awam
Namun,
desain ini mengorbankan efisiensi jelajah.
Saat
digunakan di jalan lurus dan cepat:
➡️ Mesin tetap dipaksa
bekerja di RPM tinggi.
Ini
bukan kelemahan desain, tetapi kompromi fungsi.
6.
Ilustrasi Kerja Gigi 1–5
Secara
umum karakter gigi Kijang:
Gigi
1–2
- Rasio sangat
besar
- Fokus torsi
- Untuk start dan
tanjakan
Gigi
3
- Masih cukup
besar
- Masih dominan
torsi
- Cocok untuk
jalan kota
Gigi
4–5
- Lebih kecil
- Tapi masih
tergolong “pendek”
- Belum
benar-benar overdrive
Akibatnya:
Saat
melaju 80–100 km/jam di gigi 3–4:
- RPM masih tinggi
- Mesin sering
berada di area konsumsi besar
- Efisiensi turun
Inilah
sebabnya Kijang terasa “teriak” di jalan cepat.
7.
Mengapa Jetting Karburator Tidak Bisa Mengatasi Ini
Banyak
pemilik mencoba mengiritkan Kijang dengan:
- Mengecilkan
spuyer
- Mengatur jarum
angin ekstrem
- Memiskinkan
campuran
Namun
secara teknik:
👉 Jetting hanya
mengatur rasio udara–bahan bakar
👉 Bukan mengubah
kebutuhan tenaga mekanis
Jika
mobil butuh:
- 4.000 rpm untuk
100 km/jam
Maka:
➡️ Mesin tetap butuh
BBM sesuai RPM tersebut.
Kalau
dipaksakan kurus:
- Mesin panas
- Tenaga turun
- Risiko rusak
- Konsumsi real
sering malah naik
Karena
mesin bekerja lebih keras.
Mengapa
Jetting Karburator Tidak Bisa Mengatasi Borosnya Kijang di RPM Tinggi
Dalam
banyak komunitas dan bengkel, pemilik Kijang karbu sering mencoba “mengirit”
dengan berbagai cara pada karburator, seperti:
- Mengecilkan
spuyer utama
- Mengatur jarum
angin secara ekstrem
- Membuat campuran
udara–bahan bakar menjadi sangat kurus
Namun,
secara prinsip mesin bensin, ini tidak akan menyelesaikan akar
masalah konsumsi BBM yang tinggi jika penyebab utama adalah RPM kerja
mesin yang tinggi akibat rasio gigi transmisi.
1.
Jetting Hanya Mengatur Rasio Udara–Bahan Bakar
Karburator
itu fungsinya:
👉 Mengatur massa
udara dan bensin yang masuk ke ruang bakar sehingga perbandingan campuran
(Air-Fuel Ratio / AFR) sesuai kebutuhan kondisi mesin. (X Engineer)
Namun
perlu dicatat:
- Jetting tidak
mengubah kebutuhan tenaga mekanis mesin
- Jetting tidak
mengubah karakter RPM yang dibutuhkan untuk mempertahankan kecepatan
tertentu
- Jetting tidak
mengubah jumlah putaran mesin yang diperlukan pada kecepatan jelajah
tertentu
Dengan
kata lain:
Jetting
mengatur campuran bahan bakar,
tetapi bukan kebutuhan bahan bakar absolut yang ditentukan oleh RPM
kerja mesin.
2.
Efek Campuran Kurus (Lean) Tidak Selalu Irit
Secara
teori, campuran yang kurus (lean) bisa menghasilkan konsumsi bahan bakar
rendah jika mesin bekerja pada beban dan RPM tertentu yang optimal.
Menurut
literatur teknik otomotif tentang Air-Fuel Ratio:
👉 Campuran kurus dapat
memberikan efisiensi konsumsi bahan bakar terbaik karena lebih sedikit
bensin yang dibakar untuk setiap unit udara yang masuk, tetapi itu terjadi pada
kondisi tertentu dan bukan pada RPM tinggi yang memerlukan tenaga besar. (X Engineer)
Namun
demikian, jika dipaksakan terlalu kurus pada beban/percepatan tinggi, banyak
masalah bisa muncul.
3.
Campuran Kurus Dapat Meningkatkan Suhu dan Mengurangi Tenaga
Penelitian
pada mesin spark-ignited (bensin) menunjukkan bahwa:
🔹 Campuran yang
terlalu kurus menyebabkan pembakaran yang lebih panas, karena kurangnya
bahan bakar yang mengabsorpsi panas pembakaran. Suhu pembakaran yang tinggi
dapat menaikkan risiko kerusakan komponen mesin. (MDPI)
🔹 Mesin dengan
campuran terlalu kurus sulit mencapai tenaga optimal, karena jika terlalu
sedikit bensin, energi yang dihasilkan tidak cukup untuk mendorong pistons
secara efektif. (MDPI)
Ini
relevan dengan pengalaman di Kijang: mesin bisa terasa “mati suri”,
panas, atau respons pengereman turun ketika campuran dibuat terlalu kurus untuk
mengejar efisiensi.
4.
Jetting Tidak Mengubah RPM Minimum yang Diperlukan
Ketika
sebuah kendaraan membutuhkan:
➡️ ±4000 RPM pada
90–100 km/jam (angka tipikal untuk karburator Kijang karena rasio transmisi
besar)
ini
adalah kebutuhan mekanis, bukan pilihan campuran bensin.
Meskipun
spuyer dibuat sangat kecil dan campuran sangat kurus:
- Mesin tetap
harus berputar ~4000 RPM
- udara masuk
tetap besar (karena throttle untuk mempertahankan kecepatan)
- kebutuhan energi
mekanis tetap tinggi
Sehingga:
Jetting
yang ditujukan untuk irit tidak mengurangi kebutuhan bensin secara
keseluruhan saat mesin dipaksa bekerja pada RPM tinggi.
Justru,
bila campuran terlalu kurus di RPM tinggi:
✔️ Mesin menjadi panas
✔️ Tenaga menurun
✔️ Ada risiko
detonation / knocking
✔️ Konsumsi bahan bakar
malah bisa tidak turun signifikan karena mesin justru “dipaksa bekerja
keras” untuk mempertahankan tenaga dan putaran yang diperlukan.
Ini
sesuai dengan temuan bahwa pada mesin bensin, terlalu kurus itu menyebabkan
kerja mesin tidak optimal bahkan pada putaran tertentu sekalipun. (MDPI)
5.
Hubungan RPM, Campuran, dan Konsumsi BBM
Pahami
konsep penting ini:
🔹 Air-Fuel Ratio
(AFR)
AFR
yang ideal (sekitar stoikiometrik 14,7:1 untuk bensin) adalah kompromi antara
tenaga dan efisiensi. (X Engineer)
🔹 Rich vs Lean
Conditions
- Campuran rich
(banyak bahan bakar) → tenaga lebih besar tetapi boros
- Campuran lean
(sedikit bensin dibanding udara) → efisiensi bisa lebih baik tetapi di RPM
tinggi bisa:
- meningkatkan
suhu
- mengurangi daya
- menyebabkan
mesin lebih keras bekerja (X
Engineer)
👉 Intinya: AFR yang
optimal berubah berdasarkan beban dan RPM kerja mesin.
6.
Pemeriksaan Praktis: Jetting Tidak Merubah Mekanik
Secara
singkat:
|
Faktor |
Jetting Karburator |
Rasio Gigi Transmisi |
|
Mengatur
campuran |
✅ |
❌ |
|
Mengubah
RPM mesin |
❌ |
✔️ |
|
Mengubah
kebutuhan energi |
❌ |
✔️ |
|
Mengubah
karakter torsi |
❌ |
✔️ |
Ini
berarti:
Jetting
hanya bisa menyempurnakan pembakaran,
tetapi tidak bisa mengubah bagaimana drivetrain memaksa mesin bekerja pada
titik putaran tertentu.
Kesimpulan
Inti
Secara
teknis:
✔️ Jetting karburator mengatur
rasio udara–bahan bakar (AFR)
✔️ Rasio gigi transmisi
mengatur kebutuhan putaran mesin
✔️ Jetting tidak
bisa mereduksi kebutuhan RPM dan tenaga mekanis yang ditentukan oleh drivetrain
✔️ Terlalu kurus pada
RPM yang tinggi justru berisiko membuat mesin:
- panas
- kurang bertenaga
- konsumsi BBM
tidak turun secara signifikan
- berpotensi
kerusakan internal (MDPI)
Secara
sederhana:
Mengurangi
ukuran spuyer atau memiskinkan campuran tidak akan mencegah konsumsi besar jika
mesin masih bekerja pada RPM tinggi karena karakter rasio gigi drivetrain.
8.
Batasan Fisik: Drivetrain & Aerodinamika
Selain
rasio gir, Kijang juga dibatasi oleh:
Bobot
Kijang
berat → butuh tenaga besar.
Bentuk
Bodi
Bentuk
kotak → hambatan udara tinggi.
Teknologi
Karburator
→ kontrol BBM kurang presisi.
Semua
faktor ini membuat “irit ekstrem” sulit dicapai.
9.
Inti Kaitan Rasio Gigi & BBM Kijang
Secara
ringkas dan teknis:
1.
Rasio besar → torsi kuat → cocok kerja berat
2. Rasio besar → RPM tinggi di cruising
3. RPM tinggi → suplai BBM meningkat
4. Jetting tidak mengubah rasio mekanis
5. Boros relatif = karakter desain
Jadi
konsumsi BBM Kijang lebih dipengaruhi oleh:
➡️ Desain drivetrain
➡️ Rasio gir
➡️ Bobot & aerodinamika
bukan
semata-mata setting karburator.
10.
Kesimpulan Teknis
Toyota
Kijang karburator adalah kendaraan multifungsi berbasis torsi, bukan kendaraan
efisiensi tinggi.
Rasio
transmisinya sengaja dibuat:
✔️ Kuat
✔️ Tahan
✔️ Mudah dipakai bawa
beban
Dengan
konsekuensi:
❌ RPM tinggi saat
jalan cepat
❌ Konsumsi BBM relatif
besar
❌ Sulit dibuat super
irit
Karakter
ini melekat sejak pabrik dan tidak bisa dihilangkan hanya dengan setting
karburator.
Kesimpulan
Toyota
Kijang karburator memang bukan mobil yang dirancang untuk super irit atau kecepatan
tinggi.
Karakter
aslinya adalah:
✔️ Kuat
✔️ Tahan banting
✔️ Torsi besar
✔️ Andal untuk kerja
berat
Untuk
penggunaan harian non-tol, kombinasi:
115
/ 150
sudah
paling seimbang antara:
- Tenaga
- Kenyamanan
- Keawetan
- Konsumsi BBM
Upaya
memaksakan irit ekstrem sering gagal karena bertentangan dengan desain dasar
mesin dan transmisinya.
Lebih
baik menjaga kondisi mesin tetap sehat daripada mengejar angka konsumsi yang
tidak realistis.
Daftar
Pustaka
1.
Rasio Gigi & Pengaruhnya terhadap Konsumsi BBM
- Çilingiroğlu, U.
C., & Karamangil, M. İ. (2025). Fuel Consumption of Backward
Vehicle Simulation Following Minimum Fuel Consumption Curve for Optimum
Gear Ratios. Machines. Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio
gigi memengaruhi konsumsi BBM melalui pemilihan rasio yang memungkinkan
operasi dekat kurva konsumsi minimum. (MDPI)
- More efficiency
in fuel consumption using gearbox optimization based on Taguchi method. (Journal of
Industrial Engineering International, 2014). Studi ini membahas
hubungan pemilihan rasio gigi dengan konsumsi bahan bakar optimal
melalui model simulasi mesin dan transmisi. (SpringerLink)
- Experimental
evaluation of gear-shift and internal-combustion engine variables on fuel
consumption
(Transportation Research Procedia, 2022). Penelitian ini menunjukkan pengaruh
pemilihan gigi dan RPM terhadap konsumsi serta emisi kendaraan. (ScienceDirect)
2.
Hubungan RPM, Rasio Gigi, dan Konsumsi BBM
- Artikel populer
tentang cara pilihan rasio gigi memengaruhi efisiensi BBM — semakin
besar rasio, semakin tinggi RPM pada kecepatan tertentu → konsumsi BBM
naik. Ini sesuai dengan literatur transmisi & efisiensi BBM yang
dijelaskan dalam otomotif umum. (KOMBI.ID)
- Analisis Kinerja
Sistem Transmisi Pada Mobil Hemat Energi — penelitian laporan teknis yang
menemukan semakin tinggi RPM dengan rasio tertentu, konsumsi BBM yang
digunakan juga meningkat. (eprints.itenas.ac.id)
3.
AFR (Air–Fuel Ratio) dan Efeknya terhadap Performa Mesin
- Air fuel ratio
and engine performance (x-engineer.org) — menjelaskan
hubungan AFR dengan konsumsi BBM dan tenaga mesin, bahwa AFR ideal
berbeda antara efisiensi dan tenaga, dan campuran terlalu lean tidak
otomatis hemat pada kondisi beban/torsi tinggi. (X
Engineer)
- Mohammed, S. E.,
Baharom, M. B., & Aziz, A. R. (2018). The Influence of Air-Fuel
Equivalence Ratio on the Performance and Emission Characteristics of a
Crank-rocker Engine — studi eksperimental menunjukkan performa
mesin dan efisiensi sangat dipengaruhi oleh rasio setara udara–bahan bakar
(equivalence ratio). (sciencepubco.com)
- Munahar, S.,
& Setiyo, M. (2017). AFR Modeling of EFI Engine Based on Engine
Dynamics, Vehicle Dynamics, and Transmission System — penelitian ini
secara teoretis menyatakan AFR dipengaruhi oleh parameter mesin,
kecepatan kendaraan dan posisi gigi/transmisi. (jtm.itp.ac.id)
4.
Prinsip Mesin Bensin, Campuran Lean/Rich, & Efisiensi BBM
- Optimasi AFR
pada Gasoline Engine Menggunakan Vehicle Speed Sensor — meskipun
terfokus pada kontrol AFR, artikel ini menegaskan bahwa optimasi AFR
sangat penting untuk efisiensi BBM tetapi tetap mempertimbangkan
dinamika mesin dan beban. (journal.unimma.ac.id)
- DESAIN KONTROL
AIR FUEL RATIO (AFR) PADA MODEL SPARK IGNITION ENGINE — menjelaskan
hubungan langsung AFR dan karakter pembakaran pada mesin bensin. (Undip E-Journal System)
Catatan
Semua
sumber di atas dapat dijadikan rujukan ilmiah dan teknis untuk
menjelaskan:
- Rasio gigi
transmisi berdampak pada RPM kerja mesin dan akhirnya memengaruhi konsumsi
BBM. (SpringerLink)
- Gear selection
(pemilihan gigi)
berhubungan langsung dengan konsumsi BBM dan emisi. (ScienceDirect)
- AFR dan campuran
udara–bahan bakar menentukan karakter pembakaran,
tetapi tidak bisa merubah kebutuhan energi mekanis yang ditentukan oleh
rasio gigi dan RPM. (X
Engineer)
- Setting AFR saja
tidak cukup untuk menurunkan konsumsi BBM jika mesin tetap dipaksa bekerja
di RPM tinggi. (sciencepubco.com)
0 Komentar